Category: Sejarah


Sel merupakan unit organisasi  terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Makhluk hidup (organisme) tersusun dari satu sel tunggal (uniselular), misalnya bakteri, Archaea, serta sejumlah fungi dan protozoa) atau dari banyak sel (multiselular). Pada organisme multiselular terjadi pembagian tugas terhadap sel-sel penyusunnya, yang menjadi dasar bagi hirarki hidup.
Continue reading

Advertisements

thumbnaillargeafrica20051121202480r389Pusat peringatan kilgali di Kigali, Rwanda, dibangun diatas situs kuburan missal. Disana dikuburkan lebih dari 250.000 korban genosida tahun 1994 di Rwanda.

Hampir satu juta orang terbunuh di Rwanda dalam pembunuhan yang berlangsung sepuluh hari pada 1994, ketika perang saudara antara kelompok etnis yang bertikai, yaitu etnis Hutu yang berkuasa dan pemberontak dari etnis Tutsi, meletus menjadi genosida.

Genosida meletus ketika, pada April 1994, pesawat yang membawa Presiden Rwanda dan Presiden Burundi ditembak jatuh pada saat mendarat di kilgali. Serangan tersebut tetap belum terpecahkan pelakunya, tetapi saat itu etnis Tutsi yang memberontak dituduh berada dibaliknya.

Tindakan pembalasan dengan pembunuhan segera menyusul, menyebar keseluruh Rwanda. Orang-orang Hutu tanpa pandang bulu membunuh laki-laki, perempuan, dan anak-anak memakai parang, senapan api, pentungan, dan senjata lainnya. Saat penyerangan usai, hamper 85 persen populasi Tutsi terbunuh. Banyak juga orang-orang Hutu berpandangan moderat ikut terbunuh.

Bulan Juli genjatan senjata di umumkan setelah pemberontak Tutsi ditangkap di Kigali dan pemerintahan yang dikuasai etnis Hutu tumbang. Pemerintahan multietnis yang menggantikan berhasil menghadirkan perdamaian dan ketertiban.

Pusat peringatan Kilgali, yang dibuka bagi umum pada1994, dirancang untuk memberi peristirahatan terakhir kepada para korban, memberi tempat bagi keluarga korban menumpahkan kesedihan mereka, dan menjadi saksi bagi genosida yang tak dapat diterima akal budi.

204739pTiga buah fosil binatang purba gajah dan kerbau yang ditemukan warga Pocung, Desa Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Kini fosil itu disimpan di Museum Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

“Ketiga buah fosil itu berupa rahang atas dan rahang bawah gajah purba serta sebuah fosil kepala kerbau beserta tanduknya yang masih utuh,” kata Koordinator Konservasi Fosil Situs Sangiran, Gunawan, kepada wartawan di Sangiran, Rabu.

Fosil rahang atas gajah purba itu ditemukan 26 Nopember 2008, di Dusun Tanjung, Desa Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, oleh Sri Mulyono, warga Pocung, Gondangrejo, Karanganyar, di sebuah tebing, saat ia sedang mencari pakan burung. Penemuan itu langsung dilaporkan kepada petugas museum di Sangiran.

Fosil kepala kerbau beserta tanduknya yang masih utuh diketemukan di sebelah timur Dusun Grenjeng, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, oleh Sutris, warga setempat, 27 Nopember 2008. Saat itu, hujan yang mengguyur daerah ini menggerus tanah setempat dan memunculkan kepala kerbau beserta tanduknya.

Sutris sebenarnya tidak sengaja menemukan fosil kepala kerbau lengkap dengan kedua tanduknya ini karena ketika itu ia sedang mencari kayu bakar dan menemukan benda tersebut.

Untuk fosil rahang bawah gajah purba diketemukan tanggal 29 November 2008 di bagian barat Bukit Grenjeng, setinggi sekitar 14 meter. Akibat terkena erosi tergerus air hujan, tanah bukit akhirnya memunculkan rahang gajah purba yang dimaksud kemudian ditemukan oleh Sri Mulyono.

Penemuan rahang bawah gajah purba ini baru bisa diambil Selasa (2/12). Sekarang benda itu telah disimpan di Museum Sangiran.

Ketiga fosil tersebut diperkirakan berumur 125 ribu sampai 700 ribu tahun yang lalu. Situs Sangiran yang luasnya sekitar 56 kilometer persegi berada di Wilayah Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar.

Sri Mulyono pada tahun 2007 juga pernah menemukan fosil buaya purba sepanjang 90 cm. “Penemuan fosil buaya itu merupakan penemuan fosil buaya paling lengkap di Sangiran,” kata Gunawan.*

russiatunguskalg2Peristiwa Tunguska
30 Juni 1908

Seabad yang lalu, salah satu misteri yang paling bertahan pada era modern terjadi di alam liar Siberia. Pada pagi hari tanggal 30 juni 1908, sebuah ledakan dasyat di dekat sungai Podkmennaya Tunguska di bagian tengah Rusia memorak porandakan hutan sluas hampir 800 mil persegi (2.072 km persegi).

tunguska3Ledakan itu dirasakan pada sebagian besar Asia dan tercatat pada alat seismograf di England, Inggris. Yang ikut menyumbang pada aura peristiwa itu adalah tidak adanya kawah hasil benturan, laporan tentang api yang menyala di langit, dan jutaan pohon roboh di sekelilingnya, mengarah keluar dari pusat ledakan.
Di luar situasi ekstrem ledakan yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Tunguska, ekspedisi ilmiah pertama ke daerah itu batu di lakukan pada tahun 1927 atau 19 tahun setelah ledakan. Ketika tim ilmuwan tiba di sana, mereka menemukan pohon-pohon tegak dengan cabang-cabangnya dn kulit pohon terkelupas. Ciri kejutan gelombang yang sama pada pohon tidak terlihat lagi sampai tahun 1945 – di Hiroshima, Jepang.

Penduduk kawasan Tunguska awalnya mengira Dewa Ogdy telah mengutuk hutan mereka. Hampir semua ilmuwan percaya bahwa ledakan itu terjadi ketika meteor besar memasuki atmosfer di atas Siberia, terjadi pemansan luar biasa, dan kemudia meledak pada ketinggian ribuan kaki dari permukaan tanah. Energi yang dilepaskan oleh tekanan dan panas dari ledakan itu setara dengan kira-kira 185 bom atom yang di jatuhkan Amerika di Hiroshima.