Category: Reptile


1. Unta Dromedari

Dromedari, anggota suku unta, sanggup menahan perubahan suhu tubuh yang lebih besar daripada kebanyakan binatang berdarah panas lainnya. Suhu tubuhnya dapat berkisar antara 34-41 derajat C.

Karena suhunya turun sangat drastis pada malam hari, unta tersebut tetap merasa dingin untuk jangka waktu yang lebih lama pada siang hari berikutnya. Dengan demikian, uap air yang hilang melalui keringat unta hanya sedikit.

Continue reading

Advertisements

Sungai Amazon (bahasa Spanyol: Río Amazonas, bahasa Portugis: Rio Amazonas) adalah sungai di Amerika Selatan yang merupakan sungai terpanjang kedua di dunia – Sungai Nil di Afrika merupakan yang terpanjang. Sungai Amazon memiliki total aliran terbesar dari sungai manapun, membawa lebih dari Sungai Mississippi, Nil, dan Yangtze digabungkan. Amazon juga memiliki sistem peraliran terbesar dari seluruh sistem sungai. Meskipun Nil sungai terpanjang, namun Amazon bisa dianggap “terkuat” (dilihat dari jumlah air yang mengalir per detik).

Continue reading

Kerajaan: Animalia
Filum: Mollusca
Kelas: Gastropoda
sub kelas : Pulmonata
Ordo Stylommatophora

Siput tergolong ke dalam hewan lunak (mollusca) dari kelas Gastropoda yang berarti berjalan dengan perut. Siput merupakan hewan yang berasal dari Afrika Timur. Oleh karena mudah berkembang biak, siput menyebar ke seluruh kawasan dunia.

Continue reading

Tampaknya siput laut ini makhluk pertama yang tubuhnya setengah flora setengah fauna. Pasalnya, siput yang baru ditemukan ini bisa menghasilkan pigmen klorofil seperti layaknya tumbuh-tumbuhan. Para ilmuwan memperkirakan, siput cerdik tersebut mencuri gen dari alga yang mereka makan sehingga bisa menghasilkan klorofil. Dengan gen “curian”, mereka bisa berfotosintesis, yaitu proses tumbuhan untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi. Continue reading

Gigitan Komodo Selemah Kucing

Tercatat sebagai reptil terbesar di dunia yang masih bertahan hidup hingga kini, gigitan Komodo ternyata tak lebih kuat dari seekor kucing. Meski demikian, gigitannya sangat mematikan dan sanggup menaklukkan mangsa yag lebih besar dari tubuhnya.

“Gigitannya sungguh sangat lemah untuk reptil sebesar itu, lebih lemah dari rata-rata gigitan kucing rumah,” ujar Stephen Wroe, dari Universitas New South Wales, Australia yang melaporkan hasil penelitiannya dalam Journal of Anatomy edisi terbaru. Kesimpulannya diambil setelah mempelajari struktur tulang komodo dari spesiesm yang tersimpan di Museum Australia, Sydney.

Menggunakan model simulasi komputer, Wroe dapat mengukur kekuatan dan fungsi bagian-bagain tulang di sekitar mulut yang berperan saat menerkam mangsa. Menurutnya, jika komodo benar-benar mengunyah makanan dengan kuat-kuat seperti seekor buaya, tulang tengkoraknya malah bisa hancur sebab beberap ruas rulang seperti spons.

“Yang menarik, ia memiliki tengkorak yang rapuh dan rahang yang lemah, namun ia sangat optimal menggunakan struktur tengkorak dan bagian-bagiannya,” ujar Wroe. Kekuatan gigitannya bukan pada daya cengkeram, melainkan gigi-giginya yang tajam, otot leher yang kuat, dan ruang dalam mulut yang besar untuk menahan tubuh mangsanya.

Sekali gigit, mangsanya dijamin cedera parah, segera kehabisan darah, dan mati lemas karena gigi yang tajam. Apalagi didukung tulang rahang yang elastis seperti ular sehingga dapat memperbesar ruang terkaman. Struktur yang demikian menyebabkan komodo dapat melakukan kombinasi menggigit dan menarik saat memangsa sehingga mengatasi perlawanan dari mangsanya. Dengan metode penaklukkan yang disebut ‘memangsa secara inersia’ ini, komodo dapat menaklukkan hewan lebih besar, misalnya kerbau.

Temuan ini menguatkan pendapat para peneliti sebelumnya yang selama ini hanya dilakukan melalui pengamatan terhadap perilaku reptil raksasa tersebut. Meski kenyataan bahwa komodo memiliki rahang besar bukan rahasia umum lagi, baru kali ini dianalisis secara rinci.

Metode simulasi yang sama dapat idpakai untuki memperkirakan kekuatan gigitan hewan baik yang masih hidup maupun yang telah punah. Para peneliti Australia akan menguji kekuatan gigitan hewan-hewan yang berkerabat dengan komodo namun telah punah, seperti Allosaurus dan Giganotosaurus.

Komodo merupakan salah satu hewan paling dilindungi karena hanya dapat ditemukan secara alami di Pulau Komodo dan Flores. Seekor komodo dapat tumbuh hingga sepanjang 3 meter. JUmlahnya di alam tinggal tersisa antara 4000-5000 ekor.

Satu spesies bunglon khas Madagaskar punya kehidupan yang aneh. Usianya sangat singkat, bahkan dua per tiga hidupnya dihabiskan di dalam cangkang telur. Begitu menetas, bunglon-bunglon muda langsung mencari pasangan dan melakukan hubungan seks yang brutal. Mereka mati massal sebelum sempat melihat keturunannya lahir ke dunia.

“Saya sangat terkejut ketika hanya menemukan hewan dewasa pada spesies ini,” ujar Kris Karsten dari Oklahoma State University, AS, saat pertama kali mengamati spesies Furcifer labordi. Apalagi, beberapa minggu kemudian semua bunglon yang dipelajarinya tiba-tiba tewas secara massal.

Penasaran dengan hal tersebut, Karsten dan koleganya melacak jejak bunglon asli Pulau Madagaskar ini. Tak kurang dari empat tahun dihabiskan untuk mengikuti perjalanan hidup 400 ekor bunglon. Bahkan, tujuh di antaranya dikuntit lewat pemancar radio yang dipasang di badan bunglon.

Tidak sia-sia usaha tersebut karena mereka berhasil mengungkap perilaku ganjil bunglon tersebut, antara lain fakta bahwa bunglon muda hampir semuanya lahir pada bulan November, tumbuh dewasa selama tujuh minggu, dan kemudian tewas hampir bersamaan pada April sebelum tiba musim kering.

Menjelang tewas, bunglon-bunglon betina menyimpan telur-telurnya di lubang tanah. Masa inkubasi berlangsung selama delapan bulan dan kembali menetas pada bulan November. Siklus tersebut terus berulang sehingga populasi bunglon senantiasa seragam.

Siklus hidup bunglon ini memecahkan rekor hidup vertebrata terpendek di dunia. Rekor tersebut melengkapi catatannya sebagai bunglon terpendek di dunia dengan panjang tubuh jantan sekitar 9 sentimeter dan betina 7 cm.

Siklus tahunana semacam ini tidak umum karena biasanya hanya jamak ditemui pada tumbuh-tumbuhan dan hewan tak bertulang belakang. Dari sekitar 28.000 vertebrata, hanya sekitar 20 yang menunjukkan perilaku tersebut, pada jenis kadal atau hewan berkantung.

Seks brutal

Karsten menduga, seks yang brutal menjadi salah satu faktor penyebab hidup bunglon begitu singkat, yakni 4-5 bulan. Sebab, sepanjang hasil pengamatannya, bunglon ini melakukan hubungan seks yang lama, kasar, dan menyakitkan.

Selain itu, musim kering yang ganas juga turut menjadi alasan. Hewan-hewan asli Madagaskar umumnya beradaptasi dengan mlakukan hibernasi untuk menyimpan energi, tapi bunglon-bunglon ini malah tewas. Karsten akan mempelajari lebih lanjut mengapa bunglon tersebut tak mampu melakukan hibernasi. Ia yakin F labordi memiliki kadar hormon seks androgen yang tinggi.

Jika benar, hal tersebut juga dapat menjelaskan mengapa perilaku seks bunglon begitu agresif dan berumur pendek. Dengan kadar androgen tinggi, tubuh mengonsumsi energi sangat besar dan akan menekan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, usia hidupnya pendek.

Peneliti lainnya, Heinz Grilitsch dari Museum Sejarah Nasional Vienna, Austria, mengatakan, lingkungan yang ganas memaksa bunglon untuk menyukseskan satu kali reproduksi. Menurutnya, strategi tersebut mungkin umum dilakukan bunglon. “Saya sering melihat bunglon-bunglon betina yang tengah bertelur kehilangan dua per tiga berat tubuhnya. Mereka hanya terbalut kulit dan tulang dan akan segera mati,” ujarnya.

Katakan selamat datang kepada Brachylophus bulabula, spesies iguna baru dari Kepulauan Fiji. Namanya diambil dari Bula, kata sambutan selamat datang yang biasa diucapkan penduduk asli pada negara kepulauan di Samudera Pasifik tersebut.

Reptil yang berhidung kuning dan bertubuh belang tersebut merupakan spesies iguana ketiga yang ditemukan di Fiji. Sebelumnya hanya diketahui 2 spesies berbeda, namun dari hasil tes DNA menunjukkan terdapat spesies yang secara genetika berbeda dari dua spesies yang ada.

Robert Fisher, zoolog dari badan Geologi AS (USGS) di San Diego, AS mulai mempelajari keunikan morfologi dan genetika iguana tersebut sejak dua tahun lalu. setelah membandingkannya dengan sejumlah spesies sejenis di museum, ia menemukan keunikan fisik, genetik, maupun perilaku pada iguana tersebut.

“B. bulabula memiliki warna hidung yang lebih cerah dan corak berbentuk U yang khas di punggungnya,” ujar Fisher yang melaporkannya dalam edisi terbaru “Philosophical Transactions of the Royal Society B.” Dua bunglon yang sudah diketahui lebih dulu memiliki bentuk corak yang lancip seperti huruf V. Selain itu, spesies yang baru juga lebih menyukai kawasan hutan yang basah.

Fisher mengatakan di Fiji mungkin masih banyak spesies iguana yang belum ditemukan. Sebab, masih banyak daerah dan pulau yang belum dijelajahi termasuk kawasan pelosok di pulau-pulau terpencil.