Category: Mamalia


1. Unta Dromedari

Dromedari, anggota suku unta, sanggup menahan perubahan suhu tubuh yang lebih besar daripada kebanyakan binatang berdarah panas lainnya. Suhu tubuhnya dapat berkisar antara 34-41 derajat C.

Karena suhunya turun sangat drastis pada malam hari, unta tersebut tetap merasa dingin untuk jangka waktu yang lebih lama pada siang hari berikutnya. Dengan demikian, uap air yang hilang melalui keringat unta hanya sedikit.

Continue reading

Platypus adalah hewan semi-akuatik yang banyak ditemui di bagian timur benua Australia. Walaupun Platypus bertelur tapi ia tergolong ke dalam kelas Mammalia karena ia menyusui anaknya.

Continue reading

Kalau saja kita melihat semua foto ini, lalu apa yang terlintas di benak kita semua? Binatang yang hanya dibekali naluri tanpa akal pikiran saja mampu melakukannya, lalu bagaimana dengan manusia?

Continue reading

Menemukan spesies hewan baru selalu menjadi saat istimewa bagi para peneliti. Apalagi bila hewan-hewan itu datang sendiri ke kemah mereka seolah ingin memperkenalkan diri. Itulah yang dialami tim peneliti yang berkemah di Pegunungan Foja, Papua, saat herpetologis Paul Oliver mendapati seekor katak bertengger di karung beras yang mereka bawa.

Continue reading

Dapatkah Kita Melindungi Pika ?

Pika adalah sejenis hewan menyusui kecil berbulu yang bersaudara dengan kelinci dan terwelu. Mereka hidup didataran rumput pegunungan dan di sepanjang daerah berbatu di bagian Amerika Barat Kanada Barat. Pika berukuran panjang 6-8 inci (15-20) dan berbobot 6 ounce (sekitar 186 gram). Mereka hidup di lereng pegunungan yang tinggi, 8.000-13.000 kaki (2.400-4.000 meter). Pika (dibaca paikah) adalah nama yang dipakai suku Tunguse di Siberia untuk makhluk ini. Pika Amerika di kenal dengan nama conie, kelinci batu, atau terwelu tikus. Continue reading

250px-spectral_tarsierBeratnya hanya sekitar 50 gram sehingga tarsius (Tarsius spectrum) sering dikenal sebagai monyet terkecil dunia meski sesungguhnya bukan termasuk monyet. Makhluk langka dan eksotis yang diduga hanya tinggal tersisa di hutan-hutan Sulawesi Utara ternyata masih hidup di Sulawesi Tengah.

“Ada banyak lusinan ekspedisi untuk mencarinya, semuanya gagal. Saya merasa harus pergi dan berusaha melihat langsung apakah mereka benar-benar ada atau telah punah,” ujar Sharon Gursky-Doyen, profesor antropologi dari Texas A&M University, AS.

Usaha Gursky-Doyen membuahkan hasil setelah proposal ekspedisinya didanai National Geographic. Setelah menunggu selama dua bulan, para ilmuwan berhasil menjerat empat ekor tarsius di rimbunnya hutan Gunung Rore Katimbo yang termasuk dalam Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Tarsius tak ditemukan lagi di kawasan tersebut selama 80 tahun terakhir.

Satu di antaranya berhasil lolos dari jeratan. Sementara ketiganya kembali dilepaskan setelah dikalungi pemancar radio agar dapat dilacak pergerakannya. Tak mudah menangkap primata yang besarnya tak lebih dari segenggam tangan sehingga saat memasang alat pelacak tersebut, Gursky-Doyen sempat digigit salah satu tarsius.

Meski ukuran tubuhnya kecil, tarsius memiliki mata besar. Sosoknya dipakai sebagai salah satu karakter dalam film Gremlin tahun 1984. Hewan tersebut termasuk jenis nokturnal atau aktif malam hari dan memangsa serangga.

Tarsius tak lagi ditemukan di Sulteng sejak tahun 1921 meski masih ada sekitar 1800-an di Sulawesi Utara. Pada tahun 2000, seorang ilmuwan Indonesia tanpa sengaja menemukannya dalam keadaan mati terjerat dalam jebakan tikus. Namun, sejak saat itu tidak pernah ada yang melihatnya hidup-hidup di kawasan tersebut.

Tim yang dipimpin Gursky-Doyen melihat tarsius pertama kali pada Agustus 2008 pada ketinggian 2000 meter. Habitat yang membuatnya bertahan saat ini masih berupa hutan lebat yang berkabut dan sangat dingin.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali interaksi antara penduduk dan hewan yang hidup di sekitar Lore Lindu,” ujar Gursky-Doyen. Hal tersebut merupakan cara mempertahanakn eksistensi satwa langka yang unik tersebut.

042206pSekelompok tikus yang hidup di Afrika ternyata dapat dilatih untuk mengendus lokasi-lokasi ranjau darat. Indera penciumannya sangat sensitif sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu misi yang berbahaya itu.

The Boston Globe melaporkan jenis tikus yang dipakai berbadan besar hampir seukuran racoon. Saat ini pasukan tikus pengendus ranjau darat sudah dimanfaatkan di Mozambik. Dalam waktu dekat, pasukan sejenis akan dikirim ke Republik Demokratik Kongo dan Zambia yang masih banyak mengandung ranjau darat.

Kemampuan tikus mengendus ternyata tidak hanya dimanfaatkan untuk mencari ranjau tersembunyi. Di Tanzania, tikus juga dilatih untuk mengendua penyakit. Bart Weetjens dari Belgia tertarik melakukan percobaan tersebut setelah mengetahui bahwa tikus bisa dimanfaatkan untuk mengendus bau yang tak tercium manusia.

Ia kemudian melatih sejumlah tikus untuk mengenali bau penyakit untuk menggantikan bau ranjau. Setiap kali tikus sukses membedakan bau penyakit dengan bau lainnya, ia dilatih untuk mengeratkan giginya untuk mendapatkan imbalan berupa keju atau makanan yang disukainya. Hasilnya, tikus sanggup menemukan 300 kasusu tuberkolosis (TBC) pada pasien yang tidak terdiagnosa langsung oleh staf medis.

Uniknya tikus tak serta merta langsung mengeratkan giginya untuk memperoleh makanan secepatnya. “Kalau itu sifta manusia. Tikus lebih jujur,” ujar Weetjens.

Andai dapat melakukannya sendiri, hewan ternyata juga lebih suka mengonsumsi makanan yang dimasak terlebih dahulu. Selain lebih mudah dikunyah, makanan yang dimasak lebih mudah dicerna organ pencernaan.

Nenek moyang manusia mungkin menyadari manfaat tersebut sehingga memilih memasak makanannya. Sayangnya, bukti-bukti yang mendukung pendapat tersebut sulit ditemukan.

Salah satunya mungkin dapat dilihat dari hasil penelitian terbaru terhadap kera besar untuk menilai makanan yang dimasak dan tidak. Kera besar dan manusia memiliki sifat genetika yang sebagian besar sama.

Penelitian yang dilakukan Victoria Wobber dan mahasiswa bimbingannya di Universitas Harvard menyediakan dua jenis makanan kepada beberapa spesies kera besar. Bonobo, gorila, dan orangutan ternyata tak terlalu memilih-milih makanan yang dimasak atau tidak. Kecuali untuk daging sapu, mereka lebih suka yang dipanggang.

Hal yang cukup berbeda terlihat pada simpanse, kera besar paling dekat kekerabatannya dengan manusia dan diketahui memiliki 98 persen DNA seperti manusia. Simpanse jelas lebih suka wortel, kentang manis, dan daging sapi yang dimasak daripada dalam bentuk mentah. Namun, mereka tak memilih-milih kentang putih dan apel yang dimasak karena tidak mengalami perubahan rasa yang berarti.

Sebelumnya hewan lain juga diketahui lebih menyukai makanan yang dimasak. Misalnya, kucing yang menyukai daging matang atau tikus yang lebih suka gandum yang dimasak. Meski jarang atau bahkan tak pernah menemukan makanan yang dimasak, hewan ternyata lebih menyukainya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mungkin mencoba memasak makanan begitu punya kesempatan untuk mencobanya di masa lalu dan mewariskannya hingga kini.