Category: Amfibie


The Cone Snail


Dilihat dari bentuknya, memang tidak keliatan berbahaya. Tetapi sebenarnya binatang ini sangat beracun. Sumber racunnya bearada di ujung pangkal mulutnya dan racunnya lebih dari cukup untuk membunuh hanya dalam waktu 4 menit saja. Racun tersebut ditembakkan seperti panah yang bahkan mampu menembus baju selam yang cukup tebal.

Continue reading

Advertisements

Sebuah ekspedisi ilmiah menemukan sejumlah spesies baru di Pegunungan Foja, di Pulau Guinea Baru, Provinsi Papua. Salah satunya jenis katak baru yang pantas disebut katak Pinokio karena memiliki bagian tubuh memanjang di mukanya.

Spesies baru itu yakni katak (Litoria sp nov) yang diamati memiliki benjolan panjang pada hidung seperti pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan serta mengempis dan mengarah ke bawah bila aktivitasnya berkurang. Katak ini ditemukan herpetologis, Paulus Oliver, secara kebetulan.
Continue reading

Selama ini bulan purnama identik dengan romantisme dan saat yang asyik untuk bermesraan dengan kekasih. Ternyata hal tersebut juga benar dan berlaku di dunia hean khususnya amfibi.

Para peneliti menemukan bahwa amfibi di seluruh muka bumi melakukan pesta kawin pada saat bulan purnama. Walaupun belum banyak diketahui, tetapi fenomena ini terjadi secara global. Semua spesies amfibi seperti katak, kodok, dan salamander melakukan aktivitas perkawinannya selama periode itu. Continue reading

Tampaknya siput laut ini makhluk pertama yang tubuhnya setengah flora setengah fauna. Pasalnya, siput yang baru ditemukan ini bisa menghasilkan pigmen klorofil seperti layaknya tumbuh-tumbuhan. Para ilmuwan memperkirakan, siput cerdik tersebut mencuri gen dari alga yang mereka makan sehingga bisa menghasilkan klorofil. Dengan gen “curian”, mereka bisa berfotosintesis, yaitu proses tumbuhan untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi. Continue reading

Katak Kaca dari Ekuador

0950525pPara ilmuwan dari organisasi lingkungan hidup Conservation International (CI) dalam penelitian keragaman hayati di Hutan Lindung Nangaritza Ekuador dekat perbatasan Peru menemukan katak kaca atau kristal yang disebut Hyalinobatrachium pellucidum.

Jenis amfibi ini berukuran lebih kecil dari kuku jari dan berkulit transparan sehingga organ dalamnya tampak dari luar. Satwa ini tergolong terancam punah.

Di lokasi yang sama, peneliti dari CI juga menemukan paling tidak 15 fauna dan flora yang tergolong baru bagi khazanah ilmiah.

Di dunia diperkirakan terdapat 14 juta flora-fauna, yang telah teridentifikasi manusia hanya sekitar 1,8 juta.

Tujuan dari penelitian selama tiga minggu tersebut adalah untuk mengidentifikasi spesies dan menyusun rekomendasi konservasi untuk kemungkinan pengembangan ekowisata di hutan itu.

Mereka juga mengungkapkan bahwa serangga dan katak yang ditemukan berpotensi medis. Survei kelayakan populasi diperlukan untuk melihat potensi lain di hutan itu.

Seekor penyu raksasa Swinhoe (Rafetus swinhoei) yang sudah di ambang punah muncul ke permukaan sebuah danau di Vietnam. Tidak hanya ukurannya yang besar, penyu tersebut dikenal unik dengan tempurung lunak.

Penyu langka tersebut ditemukan di sebuah danau di utara Vietnam yang berada di barat Hanoi. Nguyen Xuan Thuan, seorang biolog dari organisasi lingkungan Education for Nature, Vietnam berhasil mengambil foto seekor penyu raksasa yang sedang berenang di permukaan danau.

¨Ini penemuan yang sangat penting karena penyu Swinhoe adalah salah satu spesies paling terancam punah di dunia,¨ujar Doug Hendrie, koordinator Program Kura-kura Asia dari Kebun BInatang Metroparks Cleveland, AS. Penyu tempurung lunak Swinhoe selama ini sudah tidak pernah ditemukan lagi di alam dan hanya tersisa tiga ekor dalam pemeliharaan, dua ekor di sebuah kebun binatang China dan seekor dipelihara di Danau Hoan Kiem di pusat Kota Hanoi.

Penyu Swinhoe juga dikenla dengan nama penyu tempurung lunak Shanghai atau penyu tempurung lunak Yangtze. Hewan ini dapat tumbuh hingga seberat 150 kilogram, panjang 1 meter, dan hidup hingga 100 tahun. Dalam catatan sejarah, penyu tersebut pernah hidup di sepanjang aliran Sungai Merah di utara Vietnam hingga perairan China, baik di utara, selatan dan Sungai Yangtze di timur.

Penyu raksasa memang simbol legenda di Vietnam. Konon, dahulu kala ada sekor penyu raksasa berwarna emas dari Danau Hoen Kim yang berarti Pedang yang memberikan senjata kepada Kaisar Le Loi yang berhasil mencegah invasi China pada abad ke-15.

Danau di luar Hanoi tempat munculnya penyu tersebut selama ini juga dikeramatkan dan dipercayai sebagai tempat tinggal makhluk mistik berwujud penyu tersebut. Beberapa penduduk desa di barat Hanoi punya kepercayaan bahwa mereka akan mendapat keberuntungan jika melihat termpurung di punggung hewan tersebut menyembul di permukaan air.

Belasan spesies katak Afrika ternyata memiliki senjata pamungkas yang tersembunyi di balik kulitnya. Katak-katak tersebut mengeluarkan sejenis cakar saat terancam bahaya layaknya seekor kucing atau srigala.

David C Blackburn menyadari hal tersebut saat melakukan kerja lapangan di Kamerun. Saat biolog dari Universitas Harvard itu menangkapnya, kaki-kaki belakang katak tersebut mengeluarkan cakar lancip dari balik kulitnya.

“Saya sangat terkejut saat mengetahui ada katak yang dapat menyebabkan luka gores cukup parah,” ujar Blackburn yang melaporkan temuannya dalam jurnal Biology Letters edisi terbaru. Ia memastikan hal tersebut setelah mempelajari lebih lanjut struktur anatomi yang unik dari katak-katak Afrika itu.

Hasil observasi terhadap 63 spesies katak Afrika menemukan bahwa 11 di antaranya memiliki kemampuan semacam itu. Semua spesies dari genus Astylosternus, Trichobatracus, dan Scotobleps melakukan mekanisme pertahanan seperti itu, antara lain spesies Trichobatracus robustus dan Astylosternus perreti.

Rahasianya terletak pada tulang pangkal jari-jari kakinya yang disebut nodule. Tulang tersebut terhubung dengan tulang yang lebih kecil, namun tajam dan dapat bergerak bebas. Tulang ini terhubung dengan struktur kaki dengan pembungkus yang kaya kolagen. Namun, berbeda dengan cakar kucing, tulang yang dimiliki katak Afrika tidak dilapisi protein yang disebut keratin melainkan dari struktur tertentu di kakinya.

Saat otot-otot tertentu di kaki katak menegang, tulang tersebut keluar dari nodule sampai menebus kulitnya sehingga mirip cakar. Namun, hal tersebut hanya dilakukan katak saat terancam bahaya karena sebagai konsekuensinya kulit-kulit kakinya koyak.

Katak bertanduk dari Amazon sangat suka makan. Mereka makan akan hampir semua yang lewat di hadapan meraka di dasar hutan hujan Cekung Amazon. Katak-katak ini di laporkan menyerang penduduk desa: menggigit orang degan rahangnya yang lebar dan giginya yang tajam. Untuk melindungi kaki dan jari mereka, penduduk desa-desa disana menggunakan sepatu bot berkulit khusus.
Sifat yang agresif dan kegemaran makan menyebabkan katak bertanduk mendapatkan julukan katak “Pac Man”. Pemakan bulat yang besar dan lebar, panjangnya sekitar 8 inci (20 centi meter) itu dapat mengisi satu piring kecil.
Mereka berburu mangsa dengan cara menyergap, menggerakkan tubuh mereka maju-mundur untuk menyembunyikan tubuh besar mereka di dalam tanah. Hanya mata dan tanduk samaran mereka yang mirip tangkai yang terlihat dari permukaan tanah. Mereka menyergap dari balik samaran itu, mulut terbuka lebar, untuk menyambar mangsa yang tak sadar akan bahaya lalu menelan utuh-utuh. Serangga,laba-laba, katak lain, ular, kadal, dan mamalia kecil merupakan makanan katak ini. Namun, mereka kadang-kadang pelahap yang ambisius: kadang-kadang di temukan katak Pac Man yang mati dengan mangsa yang terlalu besar menyangkut di tenggorakan mereka.