Andai dapat melakukannya sendiri, hewan ternyata juga lebih suka mengonsumsi makanan yang dimasak terlebih dahulu. Selain lebih mudah dikunyah, makanan yang dimasak lebih mudah dicerna organ pencernaan.

Nenek moyang manusia mungkin menyadari manfaat tersebut sehingga memilih memasak makanannya. Sayangnya, bukti-bukti yang mendukung pendapat tersebut sulit ditemukan.

Salah satunya mungkin dapat dilihat dari hasil penelitian terbaru terhadap kera besar untuk menilai makanan yang dimasak dan tidak. Kera besar dan manusia memiliki sifat genetika yang sebagian besar sama.

Penelitian yang dilakukan Victoria Wobber dan mahasiswa bimbingannya di Universitas Harvard menyediakan dua jenis makanan kepada beberapa spesies kera besar. Bonobo, gorila, dan orangutan ternyata tak terlalu memilih-milih makanan yang dimasak atau tidak. Kecuali untuk daging sapu, mereka lebih suka yang dipanggang.

Hal yang cukup berbeda terlihat pada simpanse, kera besar paling dekat kekerabatannya dengan manusia dan diketahui memiliki 98 persen DNA seperti manusia. Simpanse jelas lebih suka wortel, kentang manis, dan daging sapi yang dimasak daripada dalam bentuk mentah. Namun, mereka tak memilih-milih kentang putih dan apel yang dimasak karena tidak mengalami perubahan rasa yang berarti.

Sebelumnya hewan lain juga diketahui lebih menyukai makanan yang dimasak. Misalnya, kucing yang menyukai daging matang atau tikus yang lebih suka gandum yang dimasak. Meski jarang atau bahkan tak pernah menemukan makanan yang dimasak, hewan ternyata lebih menyukainya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mungkin mencoba memasak makanan begitu punya kesempatan untuk mencobanya di masa lalu dan mewariskannya hingga kini.